SELAMAT DATANG

Terimakasih telah mengunjungi blog ini, semoga bermanfaat bagi anda..

Tampilkan postingan dengan label Letusan Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Letusan Merapi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

Turun Status Menjadi SIAGA, Merapi Masih Menyimpan Ancaman

Turun Status, Merapi Masih Menyimpan Ancaman
"Kalau intensitas hujan tinggi, itu akan meledak karena dalamnya masih sangat panas."
Status Merapi Resmi Diturunkan Menjadi Siaga
Tribunnews.com/Iman SuryantoMerapi dilihat dari Dusun Brobogan, Cangkringan tampak sedang erupsi, Rabu (10/11) dengan menyemburkan hujan abu dan awan panas yang mengarah pada sisi barat gunung
Gunung Merapi akhirnya turun status (Jumat 3/12) . Sejak pukul 09.00 Waktu Indonesia Barat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan statusya menjadi Siaga. Tak ada awan panas, kepulan asap 700 meter terlihat dari puncak.

Meski demikian, bukan berarti ancaman Merapi usai. Menurut Kepala PVMBG, Surono, ending erupsi merapi saat ini berbeda dari yang sebelumnya yang kubahnya tertutup.

"Sekarang sangat berbeda, kubah lava terbuka. Ancaman besar kalau curah hujan tinggi di puncak Merapi. Itu bisa meluber ke segala arah," kata Surono di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Jumat 3 Desember 2010.

Penurunan status tersebut berdasarkan pantauan yang dilakukan terus menerus terhadap instrumental seperti menurunnya jumlah energi gempa vulkanik; gempa fasa menandakan penurunan fluida; penurunan jumlah guguran menuju kestabilan; penurunan amplituda dan kejadian yang semula terus-menerus, saat ini tidak lagi menerus; terjadi penurunan kejadian awan panas; energi getaran vulkanik menurun secara tajam; spectrum tremor menunjukkan kestabilan dinamika fluida.

"Secara visual gunung masih tertutup kabut. Kalau cerah masih ada asap dengan ketinggian 500 meter. Tadi pagi 700 meter. Belerang menurun, emisi gas SO2 200 sampai 300 kiloton. Sangat kecil," jelasnya.

Kendati telah diturunkan dari status awas menjadi siaga, Gunung Merapi masih berpotensi memuntahkan lahar pijar berupa erupsi awan panas mengarah ke selatan. Untuk itu, disarankan kepada masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 2,5 kilometer dari puncak Merapi.

"Diperkirakan, jika terjadi aliran awan panas akan mengarah ke Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong. Potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan, dapat terjadi di semua alur yang berhulu di Gunung Merapi," jelasnya.
Untuk itulah, Surono meminta pemerintah daerah mengkaji ulang tata ruang sesuai UU Penataan Ruang. Harus ada analisis situasi bencana. Jika tak dipatuhi, sanksi diminta ditegakkan.

Selain bahaya lahar dingin dari puncak Merapi, juga ada bahaya sekunder dari aliran sungai-sungai yang berhulu di Merapi. 

Dijelaskan Surono, bagian dalam endapan material di sungai-sungai yang berhulu di Merapi masih sangat panas.

"Bahaya besarnya, kalau intensitas hujan tinggi, itu [material di sungai] akan meledak karena dalamnya masih sangat panas," jelas Surono.

Untuk itulah, kawasan 300 mater dari pinggir kali disterilkan untuk mencegah bahaya. "Dari semua sungai," tambah Surono.

Jika sewaktu-waktu Merapi menunjukkan aktivitas tinggi, maka PVMBG akan kembali menaikkan status ke Awas. Namun jika aktivitasnya terus menurun status akan diturunkan lagi.
Sumber: VIVAnews & tribunnews
Readmore »»

Kamis, 02 Desember 2010

KEARIFAN LOKAL (ANTARA BUDAYA JAWA & MERAPI)

Budaya keyakinan (Cultural beliefs)


Hubungan antara orang Jawa dan lingkungan gunung api (vulkanik) sangat kuat. Desa ini merupakan tempat tinggal mereka sejak lahir dan tumbuh berkembang juga merupakan tempat tinggal orang-orang dari nenek moyang mereka. Orang-orang ini relatif tidak suka berpindah karena itu sangat melekat pada desa kelahiran mereka (Koentjaraningrat, 1985). Untuk alasan itu, orang sering segan untuk mengevakuasi dan / atau terburu-buru untuk kembali pulang setelah diminta untuk menyingkir oleh otoritas setempat setelah terjadinya aktifitas gunung api.

Sumbu Merapi-Parangkusumo. Patahan lama dari Merapi ke Bantul, yang aktif saat gempa Mei 2006, sejajar dengan sumbu suci utara-selatan antara Merapi dan pantai Parangkusumo. Adanya patahan lain dari Gunung Merapi ke Gunung Lawu dapat menjelaskan mengapa Lawu merupakan elemen penting keempat dalam merepresentasikan Jawa. (Sumber Lavigne dkk, 2008)

Kenyataan setempat ini juga dikondisikan oleh keyakinan yang lebih dalam berkaitan dengan representasi mental dari gunung berapi. Di Sumatera orang Batak orang di sekitar Mt. Sibayak, Mt. Sinabung dan Danau Toba adalah keturunan dari komunitas mantan berlayar, seperti yang terlihat dalam bentuk atap rumah tradisional mereka. Oleh karena itu, risiko vulkanik kurang-hadir dalam kepercayaan tradisional mereka daripada di Jawa, di mana representasi dunia berpusat pada gunung berapi. Meskipun zaman modern saat ini masyarakat Islam Jawa telah menggantikan budaya-masing-masing sebelumnya dan telah menambahkan ke arah kenyataan kebenaran, setengah kebenaran dan mitos, Hindu dan Budha cosmogonies masih tetap hidup.

Upacara "labuhan" Merapi Agustus 2006

Kompleksitas spiritualitas sinkretis memainkan peran penting dalam membentuk reaksi terhadap kejadian sekitarnya. Di sekitar lereng gunung berapi di mana Islam cukup kuat seperti di Dieng, beberapa pemimpin agama mengklaim bahwa letusan adalah peringatan dari Tuhan tentang kejahatan-kejahatan minum minuman keras kuat atau dosa-dosa lain seperti pelacuran. Ide-ide serupa juga menyebar oleh penginjil setelah letusan Gunung Saint-Helens pada tahun 1980 (Blong, 1984), atau di Banda Aceh setelah 26 Desember 2004 tsunami. Didaerah lereng Merapi, beberapa desa di dekatnya tidak percaya pada ilmu pengetahuan modern dan pemerintah, dan lebih mempercayai mitologi Jawa kuno (Schlehe, 1996).

Legenda

Hampir semua gunung berapi Indonesia memiliki legenda mereka sendiri, yang biasanya melibatkan dewa-dewa, pangeran dan putri, dan manusia (Mathews, 1983). Dalam kosmologi Jawa, yang kudus dan yang profan yang dimasukkan ke dalam suatu kerangka konseptual tunggal. Pentingnya hubungan antara unsur-unsur alami umumnya dipahami dalam hal skema biner yang saling melengkapi tetapi berada pada ruang yang saling berseberangan, keduanya dihubungkan oleh hubungan pertukaran. Contoh terbaik dari hubungan ini adalah polaritas gunung berapi-laut dimediasi oleh sungai yang dilalui bukit-bukit dan dataran di antara keduanya.

Dalam kosmogoni Jawa, Samudera India adalah rumah dari Ratu Kidul, Putri Selatan, yang terkenal untuk mempengaruhi aktivitas Merapi. Kutub berlawanan biasanya dihubungkan oleh sebuah garis rohani, yang sering berhubungan dengan patahan aktif. pola pemukiman adat biasanya berasal dari fitur kosmologi atau hubungan ideal. Seringkali keduanya terhubung bersama dalam skema pemerintahan tunggal.

Dunia Wayang Kulit, memiliki ciri khas yang terkenal yang merupakan gunung khayalan yang dinamakan Gunungan (gunung) atau Kayon (pohon). Kayon menunjukkan dua wajah yang berlawanan: Pohon Kehidupan, dan Pohon Kematian. Kedua wajah-pohon gunung berapi dari pohon kehidupan dan kematian-terwakili dalam kata Korban Jawa dan bahasa Indonesia. Kata ini berarti baik korban dan pengorbanan. Ketika penduduk desa yang tidak tercela, mereka menafsirkan kehancuran dari letusan oleh fakta bahwa gunung berapi perlu mempersiapkan resepsi.

Pola pembangunan pedesaan.

Pola desa ideal di Indonesia  diambil dari  Riggs (2003). Pembangunan candi Buddha Boroburur dan Mendut candi di Jawa Tengah didasarkan pada polaritas gunung-laut ideal.



Pola pedesaan/perkotaan mereka dibangun di atas garis spiritual di mana candi yang lebih kecil lainnya terletak diantara Merapi dan laut. Ini simbolis gunung kosmik telah digunakan oleh kuil-kuil Hindu dan Buddha, yang dianggap sebagai titik pertemuan antara para dewa dan manusia (Boomgaard, 2003, p 301; Dumarcay, 1986, p 88-91, Sevin, 1992, p 117). Kraton, tempat tinggal sultan, juga dibangun di sekitar sumbu otoritas, yang mencerminkan polaritas gunung-laut. Di Yogyakarta, ini adalah sejajar sumbu utara-selatan (gambar diatas) sedangkan di Jepara itu sejajar timur barat untuk berhubungan tepat ke gunung paling suci di wilayah tersebut. Desa-desa Bali dibangun dengan konsep kosmologi yang sama.

Gunung Merapi, teraktif didunia   

Gunung Merapi berada di Pulau Jawa pada rangkaian gunungapi aktif sebelah selatan, Gunung Merapi merupakan gunungapi tipe stratovolcanoes, yaitu gunungapi berlapis. Selama dua abad terakhir, aktivitas Gunung. Merapi telah berganti-ganti secara teratur antara periode panjang kubah lava ekstrusi kental dan episode ledakan singkat pada interval 8-15-tahun, yang menghasilkan kubah runtuh aliran piroklastik dan menghancurkan bagian dari kubah yang sudah ada sebelumnya. Episode kekerasan eksplosif sering kambuh rata-rata setiap 26-54 tahun telah menghasilkan aliran piroklastik, aliran awan panas, jatuhan tephra, dan lahar hujan berikutnya (Thouret dkk, 2000.). Sebanyak 61 erupsi dilaporkan telah terjadi sejak pertengahan tahun 1500-an dan menewaskan sekitar 7000 orang. Setidaknya satu keruntuhan besar bangunan gunungapi telah terjadi di tahun 7000 lalu (Newhall et al, 2000.) Atau lebih mungkin antara 10.000 dan 12.000 BP, ketika danau terbentuk di sekitar candi Borobudur ini (Gomez et al., 2006).

 

Desa-desa pun berada dekat puncak Merapi

Pada tahun 1995, Gunung Merapi telah menjadi penyokong kehidupan sekitar 1,1 juta penduduk di 300 desa yang berlokasi lebih tinggi dari 200 meter diatas muka laut. Di antara mereka, terdapat 440.000 orang berisiko tinggi di daerah rawan aliran piroklastik, luncuran awanpanas, dan lahar (Lavigne, 1998). Gunung berapi ini adalah salah satu gunung yang paling sering diamati dan dipelajari di dunia.
Sebuah riset telah dilakukan untuk menganalisis perilaku masyarakat, meliputi pengetahuan bahaya dan persepsi risiko sebelum, selama dan setelah dua letusan Gunung. Merapi. Aliran piroklastik terjadi di Sungai Boyong pada bulan November 1994 dan di Sungai Gendol pada bulan Juni 2006 (lihat gambar). Sebelum tahun 1994 aliran piroklastik kubah runtuh dan menimbulkan awanpanas yang menewaskan 69 orang di Desa Turgo, penduduk yang hidup di sepanjang Sungai Boyong tidak mengetahui adanya bahaya di desa mereka ([Schlehe, 1996] dan [Schlehe, 2007]). Wawancara dengan responded kunci yang hidup di sepanjang Sungai Gendol menunjukkan perasaan serupa hingga kubah 2006 runtuh pada lembah Gendol ini. Diskusi dengan masyarakat setempat membuktikan bahwa selang waktu sejak terjadinya aliran piroklastik terakhir pada awal abad ke-20 adalah salah satu penyebab utama untuk kejadian jatuhnya korban ini, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan bahaya dalam kedua kasus. Namun, lebih dari 8 tahun setelah letusan 1994, sebanyak 93% dari penduduk desa yang diwawancarai di Turgo berpikir bahwa mereka tidak akan terpengaruh oleh letusan Gunung masa depan. Merapi (De Coster, 2002 B. De Coster, Persepsi des Risques Naturels nominal Populasi sur les les Flancs du Volcan Merapi, Java-Centre, Indonésie DVD Film. 35 ‘+ Laporan (2002) De Coster., 2002).

Catatan “Tulisan diatas ditulis tahun 2008, pasca 2006 tetapi sebelum erupsi 2010″. Kemungkinan pada letusn 2010 masyarakat Cangkringan dan sekitarnya tidak menyadari adanya bahaya yang mengancam mereka” 

Perasaan aman ini mungkin dipengaruhi oleh kendala visual antara desa dan lubang ventilasi kepundan yang aktif. Berdasarkan survei lapangan pada tahun 1994-1995 dan 2006, masyarakat lokal dan desa Turgo Kaliurang yang merasa dilindungi oleh bukit Turgo dan Plawangan sebelum dan pada awal letusan 1994. Sebelum letusan Gunung Merapi Mei 2006, responden lokal yang tinggal di sepanjang Sungai Gendol berpikir bahwa mereka dilindungi oleh sisa kubah lava 1910 yang disebut Geger Buaya. Sayangnya, peningkatan volume kubah lava baru telah menyebabkan Geger Buaya runtuh pada tanggal 4 Juni 2006. Empat hari kemudian, aliran piroklastik mulai memasuki lembah Gendol.

Perlu dicatat, pada erupsi 2010, lokasi Tlogoputri di Kaliurang terkena awanpanas dari arah Kali Kuning disebelah timur. Hal ini disebabkan Kalikuning sudah penuh oleh endapan piroklastik.

Meskipun memiliki kesadaran cukup baik tentang ancaman vulkanik, masyarakat setempat sering menganggap risiko ini dapat diterima, karena mereka merasa di bawah lokasi yang diperkirakan berrisiko (Renn dan Rohrmann, 2000). Mereka tidak  memperkirakan kemungkinan aktivitas gunung berapi terjadi akan membahayakan mereka. Barangkali ini disebabkan oleh pengetahuan tentang proses vulkanik.

Sebagai contoh, ketika terjadi letusan tahun 1994 warga sekitar Gunung Merapi, beberapa orang terdengan berteriak “lahar, lahar …” ketika mereka melihat aliran piroklastik memasuki lembah Boyong; mereka sadar akan bahaya gunung api. TETAPI tidak menyadari bahwa piroklastik mampu mengalir melonjak naik di atas bukit-bukit kecil. Juga pada tahun 2006, mereka tidak berpikir bahwa kubah lava tua akan  runtuh. Responden ini mengakui bahwa mereka tidak menyadari bahwa bahaya vulkanik dan saluran rentan terhadap aliran piroklastik dapat berkembang dari waktu ke waktu, kecuali jika mereka telah mengamati dinamika visual tersebut.

Catatan pada erupsi 2010 ini tidak hanya Gegerbuaya yang runtuh tetapi dinding selatan gunung Merapi robek menyebabkan aliran prioklastik sejauh 15 Km dari puncaknya.

Kisah ini terulang dan terjadi sangat mengenaskan pada erupsi tahun 2010. Seperti yang didingengkan sebelumnya tentang terjangan awanpanas di daerah Kinahrejo disini. Rumah Mbah Maridjan-pun terkena awan panas.

Budaya dan persepsi risiko

Seperti yang telah diamati pada Sumbing, Sindoro, dan gunung berapi Dieng, lingkungan budaya dapat mempengaruhi perilaku masyarakat dan persepsi risiko. Sekitar Gunung Merapi, keyakinan agama telah animis, Hindu, Buddha dan pengaruh Islam. Pengaruh agama adalah jelas dalam proporsi besar orang (97% dari mereka yang disurvei) yang berpikir bahwa kerugian aktual dan potensial yang terkait dengan letusan gunung berapi berada di bawah kendali kekuatan ilahi (De Coster, 2002). Terutama di Jawa, kultus roh, pemujaan leluhur, penyembuhan semangat dan bentuk shamanistic (‘dukunisme’). Tradisi mitos yang dikenal luas dan mendapat banyak dukungan rakyat, khususnya di daerah pedesaan ([Triyoga, 1991], [Schlehe, 1996], [ Schlehe, 2007], [Dove, 2007] dan [Dove, 2008] ).

Pada tanggal 22 November 1994 letusan Gunung Merapi menimbulkan revitalisasi spontan mitos tua dan kepercayaan mistik dan memberikan dorongan pada pemerintah untuk melakukan upaya pemindahan penduduk agar berpindah ke tempat yang lebij jauh. Bagi penduduk desa yang tinggal di lereng Gunung Merapi maupun penduduk Yogyakarta menganggap letusan bukanlah  sebagai bencana. Melainkan dipahami sebagai peringatan dari dunia supernatural (Schlehe, 1996). Akibatnya banyak orang yang tinggal dekat dengan sungai Boyong dan Gendol tidak takut. Kegiatan rutin gunung berapi ini telah benar-benar terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, dan telah menjadi bagian informal bagi rakyat yang tinggal disitu. Gunung Merapi telah dipersonifikasikan sebagai: “Mbah Merapi”-Mbah berarti kakek atau nenek-milik dunia manusia. Alih-alih dianggap sebagai sumber bahaya, gunung berapi diangap sebagai milik umum dihormati oleh semua penduduk desa. Istilah Jawa wedhus gembel (aliran piroklastik) dianggap sebagai kurang sopan bagi sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan koreksi bahwa Merapi sedang buang hajad. Dalam ekspresi bahasa Indonesia, yaitu untuk mengusir kotoran, seperti manusia lakukan.

Tokoh masyarakat dan presepsi bahaya

This file photo taken on May 17, 2006 shows Mbah Marijan, the appointed guardian for Mount Merapi by Yogyakarta's highly respected Sultan Hamengkubuwono X as he prays for the people's safety in Kinahrejo. Marijan was one of the victims of the eruption. Grandfather Marijan was found dead - reportedly discovered in a prayer position - inside his burnt house about four kilometers (2.5 miles) from the peak, local officials said.(Tarko SUDIARNO/AFP/Getty Images) #
Mbah Maridjan
Ada dua tokoh adat dalam agama Jawa tradisional (Kejawen): sultan Yogyakarta dan Juru Kunci. Juru Kunci adalah pemegang kunci dari gunung berapi. Ia berkomunikasi dengan roh-roh yang menjaga gunung. Di lereng Gunung. Merapi, masyarakat lokal menaruh kepercayaan mereka di Juru Kunci lokal, Mbah Marijan. Selama letusan Merapi terakhir pada bulan April 2006, Marijan menolak untuk mengungsi meski ia mendukung evakuasi untuk orang lain. Ia mendapatkan berhubungan dengan roh leluhur sembilan (pepundhen) setelah 3 hari meditasi untuk meminta Mt. Merapi untuk membatasi tingkat kerusakan. Orang ini hampir 80 tahun terus menerus menerima parade pengunjung mencari informasi tentang gunung di rumah kecil di desa Kinahrejo. Dia ditunjuk oleh sultan untuk melaksanakan “ruwatan/perawatan” tahunan kepada gunung berapi, tradisi abad-lama (Triyoga, 1991). Kehadiran rumah Juru Kunci di Kinarhejo sebagian menjelaskan penolakan untuk mengevakuasi penduduk sebelum letusan 2006 Gunung. Merapi, meskipun evakuasi telah diperintahkan oleh otoritas. Jarak antara desa dan rumah Juru Kunci di Kinahrejo (Umbulharjo, Southeastern sisi gunung. Merapi) pengaruh jenis persepsi risiko. Memang, orang yang hidup dekat dengan Kinahrejo terutama kepercayaan Juru Kunci dan merasa dilindungi, sedangkan orang-orang yang tinggal jauh dari dia di jarak yang sama dari kawah (misalnya di desa Tungularum, Wonokerto, pada sisi Baratdaya Gunung Merapi.) mungkin berkurang kepercayaan pada kesaktiannya.

Sumbu Merapi-Parangkusumo. Patahan lama dari Merapi ke Bantul, yang aktif saat gempa Mei 2006, sejajar dengan sumbu suci utara-selatan antara Merapi dan pantai Parangkusumo. Adanya patahan lain dari Gunung Merapi ke Gunung Lawu dapat menjelaskan mengapa Lawu merupakan elemen penting keempat dalam merepresentasikan Jawa. (Sumber Lavigne dkk, 2008)


Sebenarnya, meskipun banyak orang yang tinggal di lereng gunung api masih memiliki keyakinan animisme dan menyembah dewa spiritual, kebanyakan dari mereka juga mendengarkan pemerintah daerah dan para ilmuwan. Ketika dibuat peringatan yang sebelum letusan Merapi 2006, hanya beberapa dari 25.000 orang yang berisiko, termasuk Juru Kunci dan orang lain dari-Nya desa Kinahrejo, menolak untuk mengungsi. Sedangkan didaerah Selo dan Boyolali, di sisi utara Mt. Merapi, masyarakat setempat bahkan meninggalkan sebelum peringatan resmi. Oleh karena itu, tampaknya ada pengaruh faktor budaya dan persepsi risiko terhadap perilaku masyarakat turun sedikit sejak 1990-an ketika digambarkan oleh Schlehe, 1996 J. Schlehe, reinterpretasi dari mistis-penjelasan tradisi dari letusan gunung berapi di Jawa, anthropos 91 (46) (1996), hal 391-409. Rekam Lihat di Scopus | Dikutip Dengan dalam Scopus (11) Schlehe (1996).

Sultan Yogyakarta, yang mewakili hubungan antara tradisional dan modernitas, mungkin telah memainkan peran penting dalam perubahan ini. Dia telah secara aktif berpartisipasi dalam keberhasilan evakuasi pada tahun 2006, karena ia menjelaskan perlunya untuk mengevakuasi penduduk setempat terhadap saran dari Juru Kunci itu. Rumah sultan di Kaliurang (Sanggrahan) seharusnya melindungi desa. Hal ini diyakini telah dialihkan tahun 1994 aliran piroklastik ke desa Turgo, dimana masyarakat lokal merasa dirinya dilindungi oleh situs lain suci: makam syekh Maulana kubro di puncak bukit Turgo. The Sultan Yogyakarta sebagai keturunan langsung Brawijaya, raja terakhir dari dinasti Majapahit, wajib untuk menghormati nenek moyang mereka dengan membuat persembahan (Labuhan) di tempat-tempat suci seperti Mt. Merapi

Risiko persepsi

Studi kasus ini menunjukkan bahwa orang menyadari bahaya gunung berapi di lingkungan mereka tetapi hanya sedikit dari mereka menganggap mereka sebagai risiko bagi diri mereka sendiri.
  1. Pemahaman yang buruk dari proses vulkanik sebenarnya di luar pengetahuan mereka.
    Ada beberapa alasan untuk hal ini antara lain adanya kesenjangan antara bahaya aktual dan bahaya diketahui. Pertama adalah sumber informasi mengenai bahaya dan risiko. Di Jawa, pengetahuan bahaya ditularkan melalui berbagai sumber, baik dari luar atau dari dalam desa yang beresiko. Pihak-pihak luar yang terlibat dalam transmisi pengetahuan adalah guru, wartawan atau pihak berwenang setempat. Aktor internal meliputi para tua-tua, yang memiliki lebih banyak kesempatan daripada orang muda untuk memiliki saksi letusan gunung berapi di masa lalu atau pernah mendengar tentang letusan mantan oleh nenek moyang mereka.
    Tentulah dari mereka-meraka inilah pengetahuan bahaya risiko yang sebenarnya mengancam dapat ditularkan dan diajarkan.
  2. Sebuah kepercayaan yang berlebihan dari tindakan yang sudah dilakukan.
    Rasa keselamatan masyarakat lokal meningkat dengan dibangunnya beberapa fasilitas penanggulangan teknis terhadap bahaya vulkanik, misalnya drainase terowongan keluar dari danau kawah (misalnya di gunung Kelut), tanggul beton sepanjang tepi sungai rawan lahar meluap, bendungan perlindungan (SABO), tehnologi lain termasuk tindakan mitigasi yang meningkatkan keselamatan tujuan dapat mengakibatkan terlalu percaya diri dan perilaku berisiko (Adams, 1995 J. Adams, Risiko, UCL Press, London (1995) 228 hlm. Adams, 1995)
    Tentunya ini perlu diajarkan bahwa teknologi akan membantu tetapi tidak menjamin.
Dengan demikian kita dapat mengerti mengapa masyarakat ini kurang mengerti risiko yang sebenarnya dihadapi. Tidak mudah menghadapi perubahan bahaya akibat dari dinamika gunung yang kadangkala berada dalam jangkauan usia generai-generasi budaya ini. Selang waktu kejadian puluhan tahun, masih dapat dideteksi dan diketahui satu dua hingga tiga generasi. tetapi letusan yang bersilklus ratusan tahun ? Bagaimana menjelaskan pada masyarakat yang terlanjur merasa aman ?

sumber: rovicky
Readmore »»

Kamis, 25 November 2010

MELIHAT MERAPI DARI BERBAGAI SUDUT

3D View of merapi
Dibawah ini pemandangan merapi dari berbagai sudut yang dibuat secara grafis dengan teknik overlay (tumpangsusun) citra satelit pada peta topografi Merapi.

Gambar ini dibuat oleh CRISP (Centre for Remote Imaging, Sensing and Processing) di Singapore. Mount Merapi, Java, Indonesia (diambil pada tanggal 20 Nov 2010).

Untuk melihat skala detil Klik saja gambarnya.

Pandangan dari Selatan

Pandangan dari Selatan, melihat bagian puncak

Pandangan dari Selatan, melihat bagian lereng atas

Pandangan dari Selatan, melihat bagian lereng bawah

Pandangan dari Timur

Pandangan dari Timur

Pandangan dari Utara (dari Merbabu)

Pandangan dari Barat (melihat bagian selatan)

Bentuk morfologi atau tiopografi dataran ini menggunakan data ASTER GDEM dari METI (Jepang) dan NASA (USA). Menampalkan (overly) gambar satelit ini pada data topografi menyebabkan awan di gambar atas tampak seolah menempel ke tanah.

sumber: rovicky

Readmore »»

Jumat, 19 November 2010

MELIHAT JANGKAUAN ABU MERAPI DARI SATELIT TERRA & AQUA


Quantcast
Aqua Satellite
Dibawah ini tiga foto satelit yang menunjukkan jangkauan debu vulkanik merapi. Citra sattelit ini diambil pada tanggal 10 November 2010, 11 November 2010 dan 12 November 2010. Citra ini diambil dengan menggunakan Satelit TERRA dan AQUA. Dalam citra ini terlihat  jangkauan abu Volkanik ini mencapai 200-300 Km dari pusat Gunung Merapi.
TERRA
The Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer merupakan instrumen pencitraan yang terbang di satelit Terra NASA sebagai bagian dari NASA Earth Observing System. Hal ini dirancang untuk memperoleh gambar resolusi tinggi global, regional dan lokal Bumi dengan 14 band warna.
Merapi 10 November 2010
Bila memiliki software GIS atau Google Earth bisa diunduh disini :
11 November 2010.
Pengguna GIS software dan Google Earth silahkan unduh disini :
Merapi 12 November 2010
Merapi 12 November 2010
Pengguna software GIS (Geographic Information System) dan Google earth silahkan unduh disini :
Sumber: rovicky & NASA
Readmore »»

Abu vulkanik Merapi dilihat dari angkasa

Berikut sebuah animasi arah penyebaran abu vulkanik Merapi dilakukan dari angkasa dengan menggunakan data satelit. 

Penyebaran abu vulkanik ini diperlukan untuk keselamatan penerbangan. Sebuah kejadian enimpa sebuah Airbus dari Scandinavia. yang pada tanggal 28 Oktober Thomas Cook Skandinavia Airbus terbang melalui awan Merapi dalam perjalanan dari Indonesia ke Arab Saudi,. Ketika berada di Batam, ditemukan bahwa mesin rusak dan harus diganti.

Animasi untuk mengantisipasi



Penyebaran abu vulkanik
Jangkauan satelit cukup jauh. Dan kalau melihat jumlah materi gas yang dilepaskan sangat mungkin akan mempengaruhi atmosfer. Tentusaja kalau kondisi atmosfer berubah, maka akan merubah iklim dan cuaca. Marufin memperkirakan atau tepatnya menghayalkan dampaknya pada iklim.

Dampak sekunder dan tersier.

Ya tentu saja kalau bahaya sekundernya saja sudah sampai ke Sungai Code yang melewati perkotaan sangat padat. Ini yang menyebabkan zpna radiusnya menjadi lebih leih jauh. Lha wong baru seminggu sj Code sh mendangkal koq. Padahal kapasitas seluruh sungai yg berhulu di Merapi ini diperkirakan tidak akan sanggup menampung material 100 juta meter kubik. Dengan logika demikian radius bahaya lewat sungai seharusnya diperluas. Kompleksitasnya ada di Code yg super padat manusia itu.

Estimasi bahaya sekunder atau malah tersier harus memperhitungkan juga potensi anomali cuaca pasca erupsi. Setidaknya ada 10 ribu ton sulfur yg disemburkan Merapi ke atmosfer dan bakal menjadi aerosol sulfat. Selanjutnya intensitas sinar Matahari bakal terkurangi oleh tabir aerosol sulfat ini bakal menurunkan suhu global. Penurunan suhu selalu berkorelasi denga anomali cuaca. Anomali cuaca dan iklim ekstrim 2010 yg sudah terjadi muncul setelah Matahari relatif tenang sepanjang 3 tahun terakhir. Nah sekarang bagaimana jika tenangnya Matahari berkoalisi dengan tabir aerosol sulfat? Apakah hujan2 kita akan tambah besar dan tambah deres?

Memang ada hubungan kausal antara letusan gunung dan El Nino. Berharap saja semoga efek El Nino mengeliminasi dampak Matahari tenang.

Memang banyak dampak atmosfer yang saat ini diketahui berkorelasi dengan aktifitas vulkanisme termasuk penurunan suhu ketika meletusnya Pinatubo, dan juga yang dikenal dengan “a year without summer” akibat meletusnya Tambora.

Sumber: rovicky
Readmore »»

Sabtu, 06 November 2010

LETUSAN MERAPI MENYAMAI LETUSAN GALUNGGUNG 1983?

Kini terbukti, prediksi tingkah laku Merapi dengan mendasarkan pada sedikit parameter tidak selalu memberikan hasil yang sesuai dengan realitas. Demikian juga bagi letusan Merapi 2010 ini. Jika semula diperkirakan letusan paling banter akan mengeluarkan 30 juta meter kubik magma, ternyata realitasnya jauh lebih besar.

Letusan Merapi 4 November 2010, dengan kolom debu vertikal mencapai ketinggian 5 km, ciri khas letusan vulkanian atau sub-plinian yang merusak.
 

Sejak kunjungan SBY ke barak-barak pengungsian di sekitar Merapi pada Rabu 3 November lalu, Merapi meletus tanpa jeda dengan energi yang luar biasa hingga  5 November 2010. Semburan gas dan material vulkanik menyebabkan terbentuknya kolom asap letusan setinggi hingga 8 km. Jika pada letusan-letusan sebelumnya kawasan kaki Merapi hanya mendapat kiriman hujan debu, kini kerikil telah berjatuhan di sana termasuk di Muntilan (Magelang, Jawa Tengah) dan Ngaglik (Sleman, DIY). Guyuran butir-butir pasir menerpa kota Yogyakarta. Letusan juga menimbulkan hujan debu yang sangat deras di kota Kebumen (Jawa Tengah), yang berjarak 90 km di sebelah barat Merapi. Ini peristiwa pertama guyuran hujan debu cukup deras bagi kota ini dalam 27 tahun terakhir setelah letusan Galunggung tahun 1983 silam.

BPPTK Yogyakarta melansir, sampai pagi (5/11), Merapi telah mengeluarkan sedikitnya 50 juta meter kubik magma. Dengan asumsi suhu material tersebut 600 derajat Celcius, maka energi termal yang dikeluarkan Merapi telah mencapai 6 megaton TNT atau 300 kali lipat lebih dahsyat ketimbang letusan bom Hiroshima. Skala letusan kini telah memasuki VEI 3,5 alias hampir menyamai Galunggung 1982 – 1983. Volume material tersebut melebihi volume seluruh kubah lava yang ada di puncak Merapi pasca letusan besar tahun 1872. Sehingga hampir dapat dipastikan seluruh kubah lava yang ada telah hancur dalam letusan ini dan sifat letusan kini dikendalikan sepenuhnya oleh pasokan langsung magma segar (juvenil) dari dapur magma Merapi. Hampir dapat dipastikan pula kini di puncak Merapi terdapat kawah menganga yang terbuka seperti halnya Gunung Semeru maupun Gunung Agung.

Perkembangan ini memaksa BPPTK meluaskan radius zona aman, dari yang semula minimal 15 km menjadi minimal 20 km dari puncak. Radius zona aman diperluas mengingat semalam awan panas meluncur jauh menempuh jarak 17 km hingga menghancurkan desa Argomulyo di Cangkringan (Sleman) serta desa-desa di sepanjang aliran Sungai Gendol, merenggut puluhan korban jiwa. Dengan perluasan radius zona aman tersebut, maka kota Yogyakarta yang berjarak hanya 27 km dari puncak Merapi kini tepat berada di ambang pintu zona aman. Semoga tidak terjadi perkembangan yang lebih dramatis lagi, mengingat jika kota besar ini masuk ke zona bahaya, sulit sekali untuk memperkirakan kekacauan dan kepanikan yang akan terjadi. Belum jika kota-kota disekitarnya seperti Sleman (21 km dari Merapi) dan Klaten (26 km dari Merapi) turut diperhitungkan. Sebagai gambaran, perluasan zona aman dari semula 10 km menjadi 15 km saja telah menyebabkan jumlah pengungsi menanjak hingga tiga kali lipat.



Rentetan letusan tak terputus sejak 3 hingga 5 November ini, yang mencapai puncaknya pada 5 November dinihari tadi, terjadi hanya berselang 36 jam menjelang konjungsi antara Bulan dan Matahari, dimana posisi Bulan, Bumi dan Matahari tepat sejajar dalam garis syzygy-nya dengan Bulan berada di tengah-tengah. Konjungsi itu sendiri baru akan terjadi pada Sabtu 6 November pukul 11:51 WIB. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa faktor astronomik ini, yang selama ini secara temporal pun diyakini sebagai salah satu faktor pemicu kejadian gempa, merupakan salah satu faktor pemicu yang turut memperbesar letusan Merapi.
Sumber: rovicky
Readmore »»

Status Merapi 5 Nov 2010, Jumat 19:00 (Zona aman diluar 20 Km)

Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 5 November 2010 dari pukul 06:00 WIB sampai dengan pukul 14:00 WIB menunjukkan aktivitas G. Merapi sangat tinggi dengan ditunjukkan adanya awanpanas beruntun. Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya G Merapi dapat berupa awanpanas dan lahar.
 

Dengan memperhatikan data-data tersebut di atas, maka terhitung tanggal 5 November 2010 Pukul 01:00 WIB, wilayah yang aman bagi para pengungsi diubah dari di luar radius 15 km, menjadi di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi.

Rekomendasi yang disampaikan oleh PVMBG adalah sebagai berikut:

Sehubungan masih tingginya aktivitas vulkanik G. Merapi dan status masih ditetapkan pada level Awas, maka direkomendasikan sebagai berikut:
  1. Agar dilakukan penyelidikan abu gunungapi yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Lapangan Udara Internasional Adisucipto di Yogyakarta.
  2. Tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di G. Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.
  3. Segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi.
  4. Masyarakat di sekitar G. Merapi agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten setempat dalam upaya penyelamatan diri dari ancaman bahaya erupsi G. Merapi.
  5. Untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kawasan landaan awanpanas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat.
  6. Masyarakat diminta tidak panik dan terpengaruh dengan isu yang beredar mengatasnamakan instansi tertentu mengenai aktivitas G. Merapi dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Demikian yang disampaikan oleh Pak Surono dari PVMBG .

Desa-desa dalam Zona 5-10-15-20 Km dari Puncak Merapi 

Peta terbaru dapat diunduh disini
Unduh Peta detil Zona 20 Km (Klick)


Sumber: rovicky
Readmore »»

Jumat, 05 November 2010

ENERGI LETUSAN MERAPI SETARA 300 KALI BOM HIROSHIMA

Quantcast
Mungkin kita sudah jenuh dan capai karena selalu was-was menghadapi Gunung Merapi. Pertanyaan utama “Kapan berhentinya ?”.






Deformasi pertanda akan erupsi

Deformasi adalah perubah ukuran merapi karena dorongan magma dari dapur magma dibawah. Tercatat sebelum erupsi Merapi berkembang 20cm/hari.



Dengan mengetahui pertambahan ukuran atau deformasi dari gunung api maka dapat dihitung atau diperkirakan volume magma yang akan keluar sewaktu erupsi. Namun pertambahan ini tidak semudah yang diperkirakan. Yang bisa diperkirakan hanya yang menyundul keluar, sedangkan yang akan menambah dari dapur magma dalam sulit dideteksi oleh alat dipermukaan.

Dikira 30 m3 juta tapi sudah 50 juta m3 yg keluar.

Sebelum erupsi diperkirakan hanya 30 juta yang akan muntah dari Merapi. Namun hingga hari ini 26 Oct - 4 Nov 2010 sudah 50 juta meterkubik yang keluar. Artinya ada tambahan magma dari dapur magma dalam ke dapurnya Merapi.Jadi bukan perkiraannya yang salah tetapi memang mekanismenya tidak mudah dideteksi dengan peralatan yang sudah ada hingga kini. Mendeteksi kegiatan dapurmagma dangkal sudah dilakukan, tetapi mendeteksi kegiatan dapur dalam tidak mudah.

Energi letusan.



Kalau saja ini sudah dianggap letusannya dengan skala letusa VEI (Volcano Erupstion Index) sebesar 4-5 VEI maka energi yang dikeluarkan oleh Merapi sejak tanggal 26 Okt – 4 November ini setara 300 kali Bom Hiroshima.


Sumber: rovicky
Readmore »»

PRESS RELEASE BADAN GEOLOGI (Ancaman hingga Radius 20 km)

Sehubungan dengan aktivitas erupsi G. Merapi yang terus berlanjut dan meningkat tajam sejak 3 November 2010 pada pukul 11.11 WIB hingga saat ini tanggal 5 November 2010 pukul 23.40 WIB. Sifat letusannya eksplosif dan cenderung lebih besar sehingga daerah ancaman letusan G. Merapi semakin meluas. Untuk mengantisipasi kemungkinan risiko yang lebih besar, perlu dilakukan perluasan daerah ancaman hingga radius 20 km dari puncak G. Merapi. Adapun daerah yang direkomendasikan untuk dievakuasi adalah sebagai berikut :

1. Wilayah Kabupaten Sleman:

  • a. Glagaharjo (semua dusun)
  • b. Kepuharjo (semua dusun)
  • c. Umbulharjo (semua dusun)
  • d. Hargobinangun (Kaliurang Timur, Kaliurang Barat, Boyong, Ngipikasri, Banteng, Sumberan, Sambi)
  • e. Pakembinangun (Sambi, Padokan, Duwetsari)
  • f. Purwobinangun (semua dusun)
  • g. Girikerto (Ngandong, Nganggring, Keloposawit, Kemiri Kebo, Sukorejo, Pancal).
  • h. Wonokerto (Tunggularum, Gondoarum, Sempu, Balerante)

2. Wilayah Kabupaten Magelang:

  • a. Kaliurang (semua dusun)
  • b. Kemiren (semua dusun)
  • c. Kamongan (semua dusun)
  • d. Nglumut (semua dusun)
  • e. Ngablak (semua dusun)
  • f. Ngargosoka (semua dusun)
  • g. Srumbung (Ngepos, Cabe Kidul, Cabe Lor)
  • h. Mranggen (Kalisari, Salamsari, Grogolsari, Mranggensari, Rejosari)
  • i. Tegalrandu (Pule, Jengkol, Tegalrandu, Losari, Ngelo)
  • j. Keningar (semua Dusun)
  • k. Ngargomulyo (semua dusun)
  • l. Kalibening (semua dusun)
  • m. Sumber (semua dusun)
  • n. Krinjing (semua dusun)
  • o. Mangunsoko (semua dusun)
  • p. Paten (semua dusun)
  • q. Sengi (semua dusun)

3. Wilayah Kabupaten Boyolali:

  • a. Tlogolele (semua dusun)
  • b. Jrakah (semua dusun)
  • c. Klakah (semua dusun)

4. Wilayah Kabupaten Klaten:

  • a. Tegalmulyo (semua dusun)
  • b. Sidorejo (semua dusun)
  • c. Balerante (semua dusun)
  • d. Kendalsari (semua dusun)


Sumber: Badan Geologi
Readmore »»

BAHAYA ABU VULKANIK TERHADAP MATA & PERNAFASAN

Hari ini abu vulkanik Gunung Merapi menyebar dimana-mana, bahkan hingga Kabupaten Bantul yang jauhnya 50 Km dari puncak G Merapi. Banyak yang mengeluh pernafasan serta sakit mata.

Abu Vulkanik

Secara geologis, abu vulkanik adalah material batuan volkanik yang berasal dari magma panas dan cair yg membeku secara cepat. Batuan beku sejatinya kumpulan mineral yang membeku dan mengkristal dari magma cair. Karena membeku cepat maka magma ini tidak sempat mengkristal dengan baik. Karena tidak mengkristal dalam geologi material bekuannya disebut gelas. Ya mirip gelas kaca yang kita pakai itu.

Dibawah mikroskop abu vulkanik ini memiliki bentuk yang runcing-runcing seperti dibawah ini.

Abu vulkanik yang berupa butiran berujung runcing, terusun oleh mineral gelas tak berkristal.

Pedih dimata dan menganggu pernafasan

Karena bentuknya yang runcing-runcing inilah tentunya kita tahu kalau material ini akan menganggu kesehatan. Perlu berhati-hati bila masuk ke mata, PAKAI MASKER dan kalau masuk ke mata JANGAN DIUCEK-UCEK !!
Untuk pengguna contact lens sebaiknya jangan pakai kontak lens dahulu untuk menghindari abrasive dari kornea mata. Gunakan kacamata yg lebih menutup supaya jangan sampai kelilipan.

Abu biasa akan berbentuk berbeda. dibawah ini abu pembakaran batubara, atau asap pembakaran batubara akan terlihat seperti ini:


Abu pembakaran batubara.

Tentunya terlihat jelas perbedaan antara abu vulkanik dengan abu batubara.

Siram pakai air jangan dilap.

Tutuplah barang-barang dari debu vulkanik. Tutup mobil anda atau juga barang-barang yg mengkilap lainnya. Seandainya abu ini terkena bahan-bahan yang mengkilap termasuk kacamata anda  jangan langsung dilap, tetapi guyurlah dengan air segera. Gelas ini kalau dilap akan berfunsi seperti amplas. Tentu saja akan mengurangi kilapnya barang-barang milik anda yg perlu juga dilindungi, kan ?

Merapi masih belum berhenti aktifitasnya, tetaplah waspada dan berhati-hati.

 sumber: rocviky
Readmore »»

KIRANYA SAMPAI DIMANA LETUSAN MERAPI?

Quantcast

Hingga hari ini dinyatakan Zona KRB merapi diperluas hingga radius 20 Km dari Puncak Merapi. Seperti yg ditulis sebelumnya seberapa banyak dan seberapa besar supply magma baru dari magma dalam tidak diketahui. Sehingga daerah KRB diperluas.

Dibawah ini peta KRB Merapi yang dirilis oleh BNPB pertanggal 4 November 2010




Luncuran awan panas Merapi semakin lama semakin jauh. Ini menunjukkan kemungkinan adanya tambahan magma baru dari dapur magma dalam.

Dalam perspektif dapat digambarkan seperti dibawah ini.



Perkembangan jarak luncuran awan panas Merapi.

Dinding-dinding kawah diperkirakan juga ambrol, sehingga arah luncuran menjadi tidak diketahui dengan pasti. Karena itu tentusaja peta KRB ini menjadi berubah dari peta KRB sebelumnya.

Jogja sekitar 28-30 Km dari Puncak Merapi



Tugu Jogja terlihat warna hijau disebelah kiri. Lokasi perkotaan yang terdekat dengan merapi diantaranya Magelang disebelah barat, Jogja disebelah selatan dan Karanganyar disebelah timur. Dengan jarak kira-kira 25-30 Km. 

sumber: rovicky
Readmore »»

Letusan Merapi Makin Dahsyat, Mengarah pada SuperVolcano ?

Supervolcano adalah letusan vulkanik dengan ejecta lebih besar dari 1.000 kilometer kubik, yang lebih besar dari peristiwa vulkanik manapun dalam sejarah. Supervolcano dapat terjadi ketika magma di Bumi naik ke kerak tetapi tidak mampu melewati kerak. Meningkatnya tekanan membuat kerak tidak dapat menahan tekanan. Supervolcano juga dapat membentuk batas lempeng konvergen (contohnya Toba). Istilah supervolcano relatif baru bagi ilmu  pengetahuan.

Discovery Channel telah mendokumentasikan tujuh supervolcano: Kaldera Yellowstone, Long Valley, dan Valles di Amerika Serikat; Danau Toba, Sumatra Utara, Indonesia; Gunung Taupo, Selandia Baru; Kaldera Aira, Kyūshū, Jepang; dan Siberian Traps, Rusia. Meskipun jumlah supervolcano dapat dihitung dengan jari, namun letusan supervolcano dapat menyebabkan perubahan iklim yang drastis (seperti menyebabkan zaman es kecil) yang dapat mengancam spesies di dunia.

Letusan Merapi Makin Dahsyat, Mengarah pada Supervolcano ?

Merapi makin mengganas, tercatat hari ini tgl 5-oktober-2010, Tengah Malam Merapi Bergetar Hebat , Dentuman Merapi Terdengar Berkali-kali bahkan Merapi Bergetar, Pengungsi Berhamburan .Dentuman itu terdengar sampai puluhan kilometer, Gemuruh Merapi Sampai Jogja dan Klaten dilaporkan juga Getaran Gemuruh Merapi Dirasakan Warga Magelang dan Wonosobo 

Efek dari letusan merapi kali ini, Ribuan Pengungsi Panik Turuni Lereng Merapi Letusan Makin Dahsyat Radius Bahaya Diperluas Jadi 20 Km dimana hal ini disebabkan Tenda Pengungsi Jebol Dihujani Abu hingga akhirnya, Pengungsi Merapi di Magelang Dipindahkan dan Pengungsi Dievakuasi ke Stadion Maguwo Setelah dentuman panjang, maka giliran abu dan kerikil berjatuhan, Hujan Kerikil Merapi Sampai Kampus UGM yang pada akhirnya Hujan Abu dan Kerikil Merata di Seluruh Kota Yogyakarta

Sehari sebelumnya, tepatnya tgl 4-oktober-210, letusan demi letusan juga makin hebat, Kamis, 04/11/2010 01:58 Hingga Dini Hari, Letusan Merapi Masih Cukup Besar dan meletus lagi, Kamis, 04/11/2010 06:29 WIB Merapi Kembali Meletus, Angin Cenderung ke Barat
Letusan kali ini ditandai dengan awan vertikal, Kamis, 04/11/2010 07:06 WIB Letusan Merapi Ini Terbesar, Awan Panas Bergerak Vertikal dengan guncangan demi guncangan semakin keras pula, Kamis, 04/11/2010 08:20 WIB Guncangan Keras Terus Terjadi di Sekitar Merapi Sejak Pagi 

Supervolcano-kah merapi kali ini ?


Sampai update tulisan ini, maka letusan merapi tambah berbahaya, Jumat, 05/11/2010 05:09 WIB Hujan Abu di Yogyakarta Sebabkan Banyak Kecelakaan dan rumah - rumah terbakar, Tujuh Rumah Terbakar Awan Panas Merapi

 silahkan di klik pada tulisan yang digaris bawahi, maka akan membawa anda ke link tulisan yang dimaksud.
sumber: thephenomena
Readmore »»